Berburu Matahari Angkor

Dari Saigon, cuma butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di perbatasan Vietnam-Kamboja. Sejak semula, saya dan teman-teman memang hanya berencana menjadikan kota itu sebagai tempat persinggahan sebelum menuju destinasi utama, Siem Reap. Keagungan Angkor Wat, sebuah kompleks percandian di Angkor, Kamboja, yang dibangun oleh Raja Suyawarman II di awal abad ke-12, menggelitik keingintahuan kami. Dengan menumpang bis yang harga tiketnya US$18 perorang, kami menempuh perjalanan darat menyeberangi perbatasan.

Berbeda dengan Vietnam, ketika memasuki Kamboja warga negara Indonesia membutuhkan visa. Biasanya, perusahaan bis menyediakan layanan bantuan pengurusan visa on arrival. Begitu bis mendekati  imigrasi, sang kondektur meminta kami mengumpulkan paspor dan menyerahkan uang sebesar US$25 untuk biaya administrasi.

Setelah semua urusan keimigrasian beres, bis melanjutkan perjalanan membelah daratan Kamboja. Empat jam kemudian, kendaraan yang kami tumpangi telah memasuki terminal bis Phnom Pehn. Untuk mencapai Siem Reap, penumpang memang harus transit dulu di ibukota negara tersebut. Pasalnya, dari Saigon tidak ada bis yang langsung menuju ke sana.

Dibandingkan Saigon, kondisi Phnom Pehn jauh lebih kumuh dan menyedihkan. Saya seolah terlempar ke masa lalu saat berdiri di tengah kepulan debu dan asap pekat yang tersembur dari knalpot bis-bis tua termakan usia. Gurat wajah kuyu, yang ditempa kerasnya kehidupan pascarezim Khmer Merah, berseliweran di depan mata. Niat saya untuk pergi ke kamar kecil pun langsung urung begitu melewati sederet pria yang dengan santainya membuka risleting celana di sebuah toilet terbuka.

Tak berapa lama, bis yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Semangat yang sudah kendor kian diperparah saat melihat kondisi tumpangan yang mengenaskan. Berbeda dengan bis sebelumnya, bis baru ini disesaki orang lokal yang juga hendak menuju Siem Reap. Sebagian besar rekan seperjalanan kami siang tadi sepertinya lebih memilih bermalam dulu di Phnom Pehn. Dengan waktu tempuh sekitar enam jam, kami tiba di tujuan sekitar pukul 9 malam.

Old Market
Angkor Night Market
Siem Reap adalah sebuah kota kecil yang tenang, dengan banyak hewan ternak seperti sapi melintas santai di jalan. Kota ini merupakan pintu gerbang menuju wilayah Angkor, yang menyimpan pesona cagar budaya dunia yang telah diakui UNESCO.

Jika ingin berpetualang malam di kota ini, pergilah ke Old Market, sebuah kawasan pasar yang dipenuhi berbagai kafe, bar, dan restoran yang menyajikan hidangan dari berbagai negara, termasuk kuliner khas Kamboja. Bagi Anda yang muslim, mencari hidangan halal merupakan pekerjaan yang sedikit menantang. Tapi, sepanjang penglihatan saya, terdapat beberapa restoran yang mencantumkan label halal di depan kedai mereka.
 
Drink wisely
Di siang hari, menjelajahi Old Market menjadi kesenangan tersendiri. Maklum saja, di pasar ini juga dijual berbagai suvenir seperti yang dapat ditemui di Ben Thanh Market. Bedanya, harga di sini nyaris separuhnya. Kemampuan saya dalam tawar-menawar pun mengalami peningkatan. Jika di Indonesia saya menawar dengan setengah hati, maka di sini saya menawar apa pun hingga sepertiga harga yang disebutkan. 

Berbeda dengan Vietnam yang transaksi perdagangannya sebagian besar masih menggunakan mata uang sendiri, di Kamboja mata uang real mereka nyaris tak berarti. Di setiap sudut, pedagang mengharapkan dolar AS, bahkan ketika Anda menawar tuk-tuk, sejenis delman yang ditarik motor—alih-alih kuda—sebagai sarana transportasi umum. 

Angkor Wat
Angkor Wat
Kami menginap di sebuah guest house kecil bernama Home Sweet Home, yang bertarif US$6 permalam. Dibandingkan tempat kami bermalam sebelumnya, penginapan ini menawarkan fasilitas seadanya, dengan TV yang tidak berfungsi, tapi masih menyediakan kipas angin besar di langit-langit kamar. Seorang penjaga penginapan, Sovan namanya, bersikap manis sejak awal kedatangan kami dan bersedia memberikan berbagai informasi berguna. 

Tidak ingin membuang-buang waktu, saya dan teman-teman berencana mengunjungi Angkor Wat petang itu juga. Menurut Sovan, selain menjelang fajar, itulah waktu terbaik untuk menikmati pesona arsitektur klasik Khmer tersebut. Diantar seorang pengendara tuk-tuk yang tidak saya ingat namanya, kami pun melaju ke sana. 

Ada tiga jenis tiket masuk ke Angkor Wat, yaitu tiket untuk satu hari, dua hari, dan tiga hari kunjungan. Harga tiket masuk untuk satu hari sebesar US$20, lipatgandakan saja harga itu untuk masing-masing kunjungan berikutnya. Perbedaan dari ketiga jenis tur ini adalah luasnya kompleks percandian yang boleh Anda jelajahi. Jadi, jika membeli tiket untuk satu hari, jumlah candi yang dapat dikunjungi cuma sepertiganya.

Biksu (berpose) berdoa
Kami memutuskan membeli  tiket masuk untuk satu hari. Enaknya, pelancong boleh masuk dan menikmati senja terbenam dari situs purbakala ini pada hari pertama, lalu kembali pada keesokan subuh untuk menyaksikan matahari terbit tanpa harus membayar lagi. Suasana dalam kedua kesempatan itu sungguh magis, ditambah lagi dengan para biksu berbalut jubah oranye yang berlalu lalang di sekitar candi untuk berdoa. 

Selain Angkor Wat yang merupakan candi terbesar di kompleks tersebut, beberapa kilometer ke utara dapat ditemui sejumlah candi lain yang tidak kalah indah, seperti Angkor Thom dan Bayon. Jika Anda ingat, situs ini adalah tempat film Tomb Raider, yang dibintangi si seksi Angelina Jolie, dibuat. Gosipnya sih, ketika kami berada di sana Mrs. Pitt ini juga lagi di Siem Reap untuk keperluan photo shoot. Sayang nggak sempat ketemu *ngokk.

0 comments:

Blogger Template by Clairvo