Kerbau Gila dan Orang Amerika yang Pendiam

The Quiet American (2002) adalah alasan utama saya ingin menginjakkan kaki di Vietnam. Sisanya berpulang kepada suratan takdir, seperti tiket penerbangan murah dan kejemuan dalam bekerja. Selama ini, sebagian besar bayangan saya tentang Saigon memang bersumber dari potongan-potongan adegan di film itu, yang diadaptasi dari novel antiperang berjudul sama karangan  Graham Greene.

Saigon, yang berganti nama menjadi Ho Chi Minh City tak lama setelah pengambilalihan Vietnam selatan oleh komunis pada 1975, adalah kota terluas di negara yang identik dengan kopinya itu. Luas total kota, yang sekali waktu pernah dikenal dengan nama Prey Nokor, ini mencapai 2.095 kilometer persegi. Pada 2009, populasi penduduknya lebih dari tujuh juta jiwa.

Sejak dulu, yang paling dicari dari Saigon barangkali adalah kehidupan malamnya. Begitu pesawat mendaratkan kami di landasan pacu Tan Son Nhat International Airport, saya beserta dua sahabat segera meloncat ke dalam taksi yang membawa kami menuju District 1—sebuah kawasan paling populer di kalangan backpacker.


Ngintip tetangga
Kedatangan kami ketika itu bertepatan dengan peringatan jatuhnya Saigon dan reunifikasi Vietnam, 30 April 2011. Suasana gegap gempita. Semburan bunga api, yang beradu silau dengan sorot lampu warna-warni, pecah di langit malam selagi kami menapakkan kaki menyusuri plang demi plang nama jalan.

Tidak sulit menemukan penginapan murah di District 1. Di sepanjang jalan berjejer hostel bertarif mulai dari US$15 permalam—terselip di antara kios-kios, kafe-kafe, sampai lusinan bar yang penuh dengan turis mancanegara. Yang sedikit tricky adalah mencari penginapan murah dengan kualitas jempolan (ogah rugi). Setelah menyeret-nyeret koper sejauh beberapa ratus meter akhirnya kami menemukan penginapan yang namanya telah dicatat dengan hati-hati. Dengan membayar US$18 permalam, tubuh ini pun rebah dengan damai sentosa di sepetak kamar seluas 4x4 meter berpendingin ruangan, lengkap dengan tv kabel, seperangkat komputer plus koneksi internet gratis.

City tour
Setelah beristirahat semalam, kami memutuskan untuk menjelajahi kota keesokan paginya. Merencanakan city tour di Saigon semudah menjentikkan jari tangan. Berbagai biro perjalanan mengisi barisan ruko sempit di tiap sudut kota, semuanya menawarkan paket tur dengan harga bersaing. Destinasi wisata favorit para turis adalah Reunification Palace - Saigon Notre Dame Cathedral - War Remnants Museum - Jade Emperor Temple - Chinese Temples - Ben Thanh Market.

Suasana pasar
Demi menekan biaya perjalanan seminim mungkin, saya dan teman-teman menolak menggunakan jasa biro perjalanan dan memilih menetapkan rute sendiri. Selembar peta gratis yang kami sambar di airport, menjadi penunjuk jalan yang cukup akurat.

Destinasi pertama adalah Ben Thanh Market, sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai pernak-pernik mulai dari tas, pakaian, topi, kalung, gelang, sampai penganan kecil dan kopi. Sayang, harga barang-barang di sini adalah 'harga turis', sedikit mahal bagi anggaran pengeluaran saya yang ketat. Di malam hari, ada pula night market yang digelar mulai pukul lima sore persis di luar Ben Thanh Market. Biasanya, harga barang-barang yang dijual di pasar malam ini lebih murah dibanding harga normal.

Notre Dame Cathedral
Dari Ben Thanh Market, kami berjalan kaki menuju Saigon Notre Dame Cathedral, berfoto sejenak di depan arsitektur peninggalan kolonial Prancis itu, lantas melanjutkan perjalanan ke Ho Chi Minh City Museum. Tadinya, bangunan terakhir ini digunakan sebagai tempat kediaman para petinggi  pemerintahan Prancis, termasuk salah satu presiden Vietnam, Ngo Dinh Diem, sebelum akhirnya disulap menjadi  museum.

Puas melihat-lihat, saya dan teman-teman melanjutkan tur menuju War Remnants Museum yang didirikan pada September 1975. Tempat itu mendokumentasikan kejahatan perang Amerika Serikat dalam bentuk artefak, foto, dan gambar yang menunjukkan pembantaian terhadap rakyat sipil, penggunaan senjata kimia, sampai penganiayaan tahanan. Selain itu, dipamerkan pula sejumlah tank, bom, dan helikopter peninggalan perang.

Make love, not war
Tur keliling Saigon menurut saya cukup ditamatkan dalam waktu sehari. Menjelajahi kota paling asyik dilakukan dengan berjalan kaki. Tapi, kalau betis sudah tak mau kompromi lebih baik mencari taksi. Saya sih segan naik becak di sana. Bukan apa-apa, seorang kenalan teman saya bercerita, dulu pernah salah satu temannya keliling Saigon menggunakan becak tanpa lebih dulu menawar harga. Begitu turun, dia dipaksa membayar sejumlah uang yang kalau dirupiah-in bisa sampai sekitar 1 juta. Males, kan? 

Mirip Braga, kan?
Betul atau tidak kisah itu, saya juga kurang paham. Tapi, ngomong-ngomong soal ditipu, kami bertiga juga sempat 'dikerjai' sama seorang tukang becak di Vietnam. Jadi, ceritanya kami lagi ingin wisata pinggir sungai sambil makan camilan. Begitu melihat abang-abang yang menjual sate-satean di gerobak pinggir jalan, kami pun melipir. Apesnya, begitu menanyakan harga 10 tusuk sate yang sudah telanjur dipesan, si abang ternyata tak bisa bahasa Inggris apalagi Sunda. Bingung dong kita. 

Nah, di sinilah si tukang becak laknat itu mulai berperan. Melihat kesulitan yang dialami si abang tukang sate dan si kami-kami ini, dia pun datang mendekat lalu membisikkan sesuatu ke telinga si abang tukang sate. Setelah beberapa detik kasak-kusuk, dia menyerukan suatu angka yang membuat kami ingin memuntahkan kembali sate-sate yang sudah separoh dimakan. Pokoknya, kalau dirupiah-in angka itu sekitar 70ribu-an. Bete, kan. Mending beli ayam. 

Tia dan Dinda mau makan di resto, tak punya uang
Setelah beberapa menit beradu argumen, mengacungkan kalkulator di depan muka si tukang sate sambil mengibaskan-kibaskan tangan menyuruh si tukang becak diam, kami pun mengeluarkan beberapa lembar dong yang kalau dikonversi ke rupiah setara dengan 15ribu-an. Kejam ya? Bodo ah.

Tapi, tentu tidak semua pengalaman di sana tidak menyenangkan. Terlepas dari kenyataan bahwa mencoba menyeberangi jalanan Saigon sama artinya dengan menjemput ajal, kota itu cukup mengasyikkan untuk dikunjungi. Apalagi buat pecinta kopi. Yuk, ah mari ;)

0 comments:

Blogger Template by Clairvo